Beda Anak Zaman Sekarang dan Zaman Dulu

ZAMAN SEKARANG VS ZAMAN LAMPAU

Anak zaman sekarang berbeda sekali dengan Anak zaman dahulu. Misalnya, waktu mimin SD sepulang sekolah waktunya bermain bersama teman-teman sebaya. Permainan yang dimainkan misalnya kelereng, layang-layang, main rumah-rumahan dari tanah, bendan, gobak sodor, benteng-bentengan dan masih banyak yang lain. Permainan zaman dulu lebih membuat kita saling berinteraksi dengan orang lain. Pemandangan saat ini, anak-anak lebih suka dengan gedget dan bermain game disana dan cenderung membentuk sikap individual. Bahkan anak 2 tahun sudah mengerti Hp, karena tak sedikit dari orang tua yang memperkenalkan anak mereka pada benda elektronik tersebut. Padahal anak usia tersebut adalah masa mereka bermain dan bertemu banyak dan mempelajari hal yang baru. 

Bermain Hp terlalu lama juga tidak baik untuk kesehatam mata karena cahaya yang dipantulkan dari benda tersebut dan membuat mata Kita rusak, padahal kehidupan anak-anak masih panjang. Tetapi itu bukan sepenuhnya salah benda elektroniknya karena ini sudah zamannya teknologi modern beda sama masa mimin SD. Hp pada jaman dahulu bukanlah sesuatu yang familiar dan merupakan benda mewah kala itu. Tetapi untuk sekarang semua orang memilikinya dan bukan lagi menjadi benda tabu.  

Zaman boleh berubah tetapi jangan biarkan perubahan zaman mengendalikan kehidupan kita, seharusnya Kita yang harus mengendalikan perkembangan zaman contohnya teknologi. Kita harus bijak dalam menggunakan teknologi yang ada saat ini jangan sampai kita diperbudak oleh teknologi. Untuk para orang tua harus mengawasi anak mereka dalam penggunaan teknologi khususnya HP, Kita boleh memperkenalkan HP pada anak Kita tetapi dengan kapasitas yang sewajarnya. Akan lebih baik kalau Kita memperkenalkan pada Mereka permainan tradisional agar anak-anak bersosialisai dengan lingkungan luar yang baik untuk perkembangan mental sang Anak agar tidak menjadi anak yang minder dan menjadi pribadi yang individual.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kurikulum Kesengsaraan, untuk anak lebih baik

Alasan dibalik "Lunturnya" kuliner tradisional

Bangga Jadi Indonesia